Jurnal Jaffray

About Journal Focus And Scope Citations Statistic Submission

Jurnal Jaffray adalah jurnal nasional yang dikelola oleh institusi Sekolah Tinggi Theologia Jaffray Makassar.

Jurnal Jaffray adalah jurnal peer-review dengan double blind reviewer dan akses terbuka yang berfokus pada kebaruan ilmu teologi, eksegesis Alkitab dan praktik pelayanan dan pendidikan Kristen melalui penelitian kuantitatif dan kualitatif (hermeneutika, argumentatif, dan studi kasus). Jurnal ini menerbitkan artikel asli, review, dan juga laporan kasus yang menarik. JURNAL JAFFRAY has been accredited by The Ministry of Research, Technology, and Higher Education, Republic of Indonesia as an academic journal (Decree No. 21/E/KPT/2018).
Subjek Jurnal:
1. Perkembangan ilmu teologi dan agama
2. Tafsiran Alkitab
3. Studi Biblika
4. Penelitian Ilmu Pendidikan
5. Penelitian Pendidikan Kristen
6. Etika Kristen
7. Praktik Pastoral
8. Hermeneutika Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru

Abstracted and indexed in:

WorldCat Google Scholar SINTA DOAJ ROAD ISJD BASE IPI Crossref

 

Informasi Jurnal

1. Judul Jurnal: JURNAL JAFFRAY

2. Initial: JJV71

3. Singkatan: JJ

4. Frekuensi Terbitan: 2 nomor setahun (April & Oktober)

5. DOI: 10.25278/jj71

6. Print ISSN: 1829-9474

7. Online ISSN: 2407-4047

8. Editor In Chief: Hengki Wijaya

9. Penerbit: Sekolah Tinggi Theologia Jaffray Makassar


Alamat Surat Menyurat

Sekolah Tinggi Theologia Jaffray

Lembaga Penelitian dan Penerbitan Sekolah Tinggi Theologia Jaffray
Jalan Gunung Merapi No. 103 Makassar, 90114

Kontak Utama

Hengki Wijaya, M.Th
Lembaga Penelitian dan Penerbitan STT Jaffray Makassar

Sekolah Tinggi Theologia Jaffray
Lembaga Penelitian dan Penerbitan Sekolah Tinggi Theologia Jaffray
Jalan Gunung Merapi No. 103 Makassar, Sulawesi Selatan

Telepon: 0411-3624129
Fax: 0411-3629549
Email: hengkiwijaya@sttjaffray.ac.id

 


Jurnal Jaffray 16 (2) (Oktober 2018)

 

Kepemimpinan Yesus Sebagai Acuan Bagi Kepemimpinan Gereja Masa Kini

This article compares the leadership model of Jesus with those of the formal prominent leaders in his time. Rooted in a deep spiritual relationship with his Father, and moved by a compassionate heart, Jesus’ leadership challenges today’s church leadership practices in Indonesia which is marked by either institutional centralization, absolute local autonomy, or traditionalism.

 

Artikel ini membandingkan antara model kepemimpinan Yesus dengan model-model kepemimpinan para penguasa formal di zamannya. Berakar pada hubungan spiritual yang mendalam dengan Bapanya, dan digerakkan oleh hati yang berbelaskasihan, kepemimpinan Yesus menantang praktik-praktik kepemimpinan gereja di Indonesia masa kini yang ditandai oleh sentralisasi institusional, otonomi lokal yang absolut, atau tradisionalisme
Terkirim: 2018-07-24Lebih lanjut...
 

Respons Tests of Leadership Menurut Teori Frank Damazio Pada Mahasiswa Pascasarjana Jurusan Kepemimpinan Kristen STT Harvest Semarang

Seorang pemimpin tidak dilahirkan tetapi dibentuk. Tuhan menggunakan sejumlah ujian untuk pembentukan para pemimpin. Tujuannya, selain membekali, ujian dapat memurnikan panggilan, melatih keterampilan dan membuat para pemimpin bergantung pada Tuhan. Dengan demikian, kepemimpinan tersebut dijalankan tidak dengan caranya sendiri tetapi dengan cara dan agenda Tuhan. Sejumlah ujian itu adalah Ujian Waktu, Ujian Firman, Ujian Karakter, Ujian Motivasi, Ujian Kehambaan, Ujian Padang Gurun, Ujian Kesalahpahaman, Ujian Kesabaran, Ujian Kehendak Pribadi, Ujian Integritas, dan Ujian Pemberontakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur sejauh mana tanggapan pemimpin dalam menghadapi ujian kepemimpinan. Populasinya adalah para pemimpin gereja yang menjadi mahasiswa pascasarjana (S2) Kepemimpinan Kristen di STT Harvest Semarang. Analisis menggunakan nilai μ dari Confidence Interval menggunakan model eksogenous-endogenous variabel. Hasilnya, level respons pemimpin terhadap ujian kepemimpinan berada di dalam kategori sedang dan ujian padang gurun adalah faktor dominan yang memengaruhi kepemimpinan responden.

A leader is not born but formed. God uses tests for the formation of leaders. The goal, in addition to equipping, analyses can refine purity, train skills and make leaders dependent on God. That leadership is exercised not in its way but in God's way and His agenda. Some of the tests are Time Tests, Word Test, Character Test, Motivation Test, Servant Test, Wilderness Test, Misunderstanding Test, Patience Test, Self-Will Test, Integrity Test, and Rebellion Test. This study aims to measure how leaders respond in the face of Leadership Tests. The population is church leaders, who are students of Christian Leadership Postgraduate (S2) in Christian Leadership Program at STT Harvest Semarang. The analysis uses μ values of Confidence Interval using an exogenous-endogenous variable model. As a result, the level of leader's response to the leadership tests is in the medium category, and the wilderness test is the dominant factor affecting their leadership.

Terkirim: 2018-09-30Lebih lanjut...
 

Apakah Rut, Perempuan Moab Adalah Penyembah TUHAN?

Pernyataan Rut kepada Naomi bahwa “bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku” (1:16-17) telah menimbulkan pertanyaan tentang kekonsistenan Rut menghidupi kata-kata yang telah diucapkannya. Apakah Rut adalah penyembah TUHAN? Ini adalah pertanyaan penting karena tidak ada informasi dalam kitab Rut tentang firman yang diterima secara langsung oleh Rut untuk pergi ke Betlehem-Yehuda; tidak ada firman kepada Rut untuk bekerja di ladangnya Boas; tidak ada firman kepada Naomi untuk merencanakan pertemuan antara Rut dengan Boas pada malam hari di tempat pengirikannya Boas; dan tidak ada firman secara langsung kepada Boas untuk mengambil Rut sebagai istrinya. Namun berdasarkan kitab Rut dan kitab-kitab lain dalam PL dan PB, dapat dibuktikan bahwa Rut (perempuan Moab, janda, meninggalkan orangtuanya dan allahnya, pergi bersama Naomi, mertuanya ke Betlehem-Yehuda, hidup sebagai orang asing, dan bekerja untuk memenuhi kebutuhannya dan mertuanya) adalah seorang penyembah TUHAN. Keberadaan Rut sebagai penyembah TUHAN terwujud melalui perkataannya dan sikap hidupnya.

Ruth's statement to Naomi that "your people are my people and your God my God" (1:16-17) has raised questions about the consistency of Ruth living the words she had spoken. Is Ruth a worshiper of the Lord? This is an important question because there is no information in Ruth about the word that Ruth received directly to go to Bethlehem-Judah; there was no word to Ruth to work in Boaz's field; there was no word to Naomi to plan the meeting between Ruth and Boaz at night at Boaz's threshing floor; and there was no word directly to Boaz to take Ruth as his wife. But according to the book of Ruth and other books in the OT and NT, it can be proved that Ruth (the woman of Moab, widow, left her parents and gods, went with Naomi, her mother-in-law to Bethlehem-Judah, lived as a stranger, and worked to fulfill her needs and his father-in-law) is a worshiper of the Lord. The existence of Ruth as a worshiper of the Lord was realized through her words and attitude of life.

Terkirim: 2018-10-03Lebih lanjut...
 

Pengembangan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD Berbasis Media Sosial

Ide tulisan ini adalah dimulai dari permasalahan pembelajaran di kelas yang masih terlihat hanya satu arah melalui metode ceramah, tanya jawab, dan diskusi dalam kelompok. Sementara generasi saat ini adalah generasi heutagogy di mana generasi ini telah diperhadapkan pada suatu keadaan yang berubah dengan cepat karena informasi teknologi yang sangat maju dalam hitungan menitnya. Tujuan dan target yang ingin dicapai adalah mewujudkan suatu pembelajaran yang berbasis media sosial yaitu suatu model pembelajaran yang memenuhi kebutuhan mahasiswa untuk terlibat aktif dalam pembelajaran. Oleh karena itu, penulis mengembangkan model pembelajaran kooperatif STAD berbasis media sosial pada mata kuliah Teologi dan Informasi Teknologi untuk meningkatkan keterampilan kolaboratif mahasiswa. Metode yang digunakan adalah metode pengembangan model (Research and Development) dengan lima langkah pembelajaran kooperatif STAD berbasis media sosial dengan dampak instruksional dan dampak pengiring di dalam modelnya. Luaran yang diperoleh adalah sebuah model pembelajaran yang dapat meningkatkan keterlibatan dan keterampilan mahasiswa secara kolaboratif dan holistik melalui penggunaan media sosial.

The idea of this writing is to begin with the problem of learning in the classroom that is still seen only in one direction through the lecture method, question and answer, and discussion in groups. While the current generation is a heutagogy generation where this generation has been confronted with a situation that is changing rapidly due to highly advanced technological information in minutes. The goals and targets to be achieved are realizing a social media-based learning that is a learning model that meets the needs of students to be actively involved in learning. Therefore, the authors developed STAD-based social media cooperative learning models in the Theology and Information Technology courses to enhance students’ collaborative skills. The method used is a model development method (Research and Development) with five steps of STAD-based social media cooperative learning with instructional impact and accompanying impact in the model. The results obtained are a learning model that can increase student involvement and skills collaboratively and holistically through the use of social media.

Terkirim: 2018-10-06Lebih lanjut...
 

Peran Proses Mentoring Pemimpin Kaum Muda Bagi Perkembangan Pelayanan Pemuda Di Gereja

Masalah saat ini yang banyak dialami oleh gereja-gereja adalah kurangnya pemimpin-pemimpin yang memiliki kemampuan yang cukup untuk mengembangkan pelayanan di gereja. Gereja yang seharusnya menghasilkan pemimpin yang memiliki iman yang benar, ilmu yang memadai, dan pengabdian yang sungguh-sungguh, malah mengalami krisis kepemimpinan. Absennya kepemimpinan yang efektif akan mengakibatkan gereja kekurangan pemimpin berkualitas di masa yang akan datang. Untuk itu gereja harus memulai memikirkan bagaimana menghasilkan pemimpin-pemimpin gereja untuk masa yang akan datang. Gereja harus memulai dengan mempersiapkan pemimpin-pemimpin muda yang dapat diandalkan, mulai dari sekarang. Cara yang terbaik dan sesuai dengan firman Tuhan untuk dapat menghasilkan pemimpin adalah dengan cara pemuridan atau yang sekarang sering disebut dengan mentoring. Namun sayangnya masih banyak pemimpin-pemimpin, khususnya pemimpin kaum muda yang kurang memahami tentang mentoring. Mentoring merupakan proses pembentukan pemimpin agar nantinya pemimpin-pemimpin yang dihasilkan merupakan pemimpin yang berkualitas. Pemimpin kaum muda harus memahami bahwa mentoring harus dikerjakan dengan cara memberi teladan kepada setiap anggotanya. Kemudian pemimpin kaum muda harus melatih dan membimbing anggotanya agar dapat memahami tentang kepemimpinan. Tahap selanjutnya adalah mengutus mereka sebagai pemimpin yang baru agar mereka dapat bermultiplikasi. Dampak dari perkembangan pelayanan ini akan menghasilkan jiwa-jiwa dan semuanya itu untuk kemuliaan Tuhan.

The current problem that many churches face today is the lack of leaders who have sufficient ability to develop ministry in the church. The church that should produce leaders who have true faith, adequate knowledge and genuine devotion, even experience a leadership crisis. The absence of effective leadership will result in the Church's lack of even future leader runs out. For that, the Church must begin to think about how to produce church leaders for the future. The church must begin by preparing reliable young leaders, from now on. The best way and according to the Word of God to be able to produce leaders is by discipleship or what is now called mentoring. But unfortunately, there are still many leaders, especially young leaders who lack understanding about mentoring. Mentoring is the process of forming leaders so that leaders will be produced the qualified leader. Young leaders must understand that mentoring must be done by example of each member. Then the youth leader must train and guide its members to understand leadership. The next stage is to send them as new leaders so they can multiply. A church with good youth leadership will have an impact on the development of youth ministry in the church. The impact of the development of this ministry will produce souls and all of them for the glory of God.

Terkirim: 2018-10-06Lebih lanjut...
 

Ulasan Buku Pelecehan Rohani Dalam Gereja

Jeff Van Vonderen mempopulerkan istilah pelecehan rohani. Latar belakang sejarah praktik ini ditelusuri hingga ke gerakan penggembalaan yang bermula di Amerika. Gerakan ini ditandai oelh tingkat penyalahgunaan ekstrem dan eksploitas luar biasa terhadap karunia roh. Akhirnya lahirlah “nabi” yang tidak kompeten dalam mempertahankan kesucian pribadi mereka.
Terkirim: 2018-10-07Lebih lanjut...
 

Informasi

 

Jurnal Jaffray Volume 16, no. 2 Oktober 2018

 
Jurnal Jaffray Volume 16, no. 2 Oktober 2018 sudah dipublikasikan sejak 01 Oktober 2018  
Dikirimkan: 2018-10-07
 
Lebih banyak informasi...

Vol 16, No 2 (2018): Jurnal Jaffray Volume 16, no. 2 Oktober 2018


Halaman Sampul